Selasa, 27 September 2011

deni ismail dan andita eka prayuda (XI IPS 1)

tugas nabi dan rasul  
  Saudaraku sesama muslim, kita mulai pembahasan materi kita. Allah SWT mengutus para Rasul kepada umat manusia dengan membawa tugas-tugas tertentu. Adapun tugas-tugas yang Allah berikan kepada para Rasul antara lain sebagai berikut:
1.   Menegakkan Kalimat tauhid (kalimat : Laa ilaaha illallaah)
·        Firman Allah SWT didalam kitab suci Al-Qur’an:
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya: 25)

2.   Menyeru manusia untuk menyembah hanya kepada Allah.
·        Firman Allah SWT :
 
 “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan : “Sembahlah Allah saja dan jauhilah thoghut….” (QS. An-Nahl: 36)
3.   Membawa Rahmat
·        Allah SWT berfirman didalam kitab suci Al-Qur’an:
 
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
4.      Memberikan petunjuk kejalan yang benar.
·        Allah SWT berfirman:
 
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan…” (QS. Fathir: 24)
5.   Memberi peringatan kepada manusia
·        Allah SWT Berfirman:
 
 “Dan tidaklah Kami mengutus para Rasul itu, melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan …” (QS. Al-An’am: 48)
6.      Memberi suri teladan yang baik.
·        Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad)
 
 
 


Didalam mengemban tugas-tugas tersebut, para Rasul mendapat tantangan dari kaumnya, karena itulah, untuk membuktikan kerasulan dan kebenaran ajaran yang dibawanya, para Rasul dilengkapi oleh Allah SWT dengan mukjizat, yaitu suatu kemampuan luar biasa yang tidak dapat ditiru oleh manusia biasa, yang terjadi semata-mata atas izin Allah SWT. Mukjizat para Rasul itu berbeda-beda satu sama lain sesuai dengan kecenderungan umat masing-masing atau situasi yang menghendaki. MIsalnya mukjizat Nabi Ibrahim as tidak hangus terbakar api, Nabi Nuh as dapat membuat perahu besar yang dapat menyelamatkan semua umatnya yang beriman kepada Allah dan hewan-hewan dari bencana banjir, Nabi Musa as memiliki tongkat yang dapat berubah menjadi ular untuk mengalahkan para tukang sihir Fir’aun dan dapat membelah laut merah menjadi jalan raya, Nabi Isa as dapat menghidupkan orang yang sudah mati dengan seizin Allah SWT serta dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit yang sulit disembuhkan seperti penyakit kusta dan buta sejak lahir dan Nabi Muhammad SAW memiliki Al-Qur’an yang merupakan kitab suci lengkap serta terjaga kemurniannya sepanjang masa (universal).
            Kejadian yang luar biasa itu bisa juga terjadi pada orang-orang yang shaleh yang sangat dekat dengan Allah SWT atau yang biasa disebut Waliyullah (wali Allah). Kejadian yang luar biasa itu jika terjadi pada para Rasul disebut Mukjizat dan jika terjadi pada para waliyullah disebut Karomah.
            Baik Mukjizat maupun karomah, keduanya hanya semata-mata pemberian Allah SWT. Sama sekali tidak bisa diusahakan atau dipelajari, apalagi diajarkan. Dengan demikian, nyatalah bagi kita bahwa kesaktian yang dimiliki oleh orang-orang tertentu yang bisa dipertontonkan, bisa diajarkan dan bisa pula dipelajari, bukan merupakan karomah.
            Secara umum setiap Nabi dan Rasul memiliki sifat-sifat yang mulia dan terpuji sesuai dengan statusnya sebagai manusia pilihan Allah SWT. Dan secara khusus setiap Rasul memiliki empat sifat yang erat kaitannya dengan tugas sebagai utusan Allah, yaitu membimbing umat menempuh jalan yang diridhoi Allah SWT. Keempat sifat tersebut sebagai berikut :
1.            Shiddiq (benar), artinya selalu berkata benar, tidak pernah berdusta dan apapun yang dikatakan selalu mengandung kebenaran.
2.            Amanah (dapat dipercaya), artinya seorang Rasul selalu menjaga dan menunaikan amanah yang dipikul kan kepundaknya. Perbuatannya selau sama dengan perkataannya. Dia akan selalu menjaga amanah kapan dan dimana pun, baik dilihat dan diketahui oleh orang ataupun tidak.
3.            Tabligh (menyampaikan), artinya seorang Rasul akan menyampaikan apa saja yang diwahyukan oleh Allah SWT kepadanya.
4.            Fathonah (cerdas), artinya seorang Rasul memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, pikiran yang jernih, penuh kearifan dan bijaksana. Dia akan mampu mengatasi persoalan yang paling rumit tanpa harus meninggalkan kejujuran dan kebenaran.
Setiap Nabi dan Rasul makshum, artinya terpelihara dari segala macam kemaksiatan dan dosa, baik itu dosa kecil maupun dosa besar. Tetapi sebagai manusia biasa  Nabi dan Rasul juga tidak terbebas dari sifat khilaf dan keliru. Sifat khilaf dan keliru tidaklah menghilangkan sifat kemakshuman Nabi dan Rasul, karena kekhilafan dan Kekeliruan betapapun kecilnya selalu mendapat koreksi dari Allah SWT, sehingga selain dari hal-hal yang dikoreksi itu, para Nabi dan Rasul selalu menjadi panutan dan teladan bagi umat manusia, terutama para pengikutnya.
·        Perhatikan Firman Allah SWT :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu Uswatun Hasanah (contoh teladan yang baik) bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Saudaraku, sampai disini saya cukupkan dahulu tulisan (artikel) religius saya ini, insya Allah jumpa lagi kita dengan judul dan materi yang berbeda. Sebagai dakwah lewat tulisan saya berharap, semoga nilai-nilai islam, dengan dukungan pembaca dapat menjadi kian tersebar luaskan. Amiin!
Wabillahi taufik walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.

 

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN TUGAS NABI MUHAMMAD DENGAN NABI SEBELUMNYA

Rukun Iman keempat yang harus diimani oleh setiap mukmin adalah beriman kepada 
para Nabi dan Rasul utusan Allah. Diutusnya Rasul merupakan nikmat yang sangat 
agung. Kebutuhan manusia  terhadap diutusnya Rasul melebihi kebutuhan manusia 
terhadap hal-hal lain. Untuk itu, kita tidak boleh salah dalam meyakini 
keimanan kita kepada utusan Allah yang mulia ini. Berikut adalah penjelasan 
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan iman kepada Nabi dan Rasul.
 
Dalil-Dalil Kewajiban Beriman Kepada Para Rasul
Terdapat banyak dalil yang menunjukkan wajibnya beriman kepada para Rasul, di 
antaranya adalah firman Allah Ta'ala,
"Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari 
kiamat, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi" (QS. Al Baqarah: 177)
 
Persamaan Nabi dan Rasul adalah :
 
1. Nabi dan Rasul sama-sama utusan Allah  yang diberi wahyu oleh Allah, 
berdasarkan firman Allah, 
" Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) 
seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan ..."  (QS. Al 
Hajj:52). 
Dalam ayat ini Allah membedakan antara nabi dan rasul, namun menjelaskan kalau 
keduanya merupakan utusan Allah.
2.  Nabi dan rasul sama-sama diutus untuk menyampaikan syariat.Nabi dan rasul ada yang  diturunkan kepadanya kitab, ada pula yang 
tidak.
3. Nabi dan rasul sama-sama diutus untuk menyampaikan syariat.Nabi dan rasul ada yang  diturunkan kepadanya kitab, ada pula yang 
tidak. 
 
Perbedaan Nabi dan Rasul :
 
1. Nabi diberi wahyu untuk disampaikan kepada kaum yang sudah bertauhid 
atau untuk diamalkan bagi dirinya sendiri, sebagaimana dalam sebuah hadist, 
"Dan akan datang Nabi yang tidak memiliki satu pun pengikut". 
Sedangkan rasul 
diutus untuk menyampaikan syariat kepada kaum yang menyelisihinya. 
2. Nabi mengikuti syariat  sebelumnya yang sudah ada, 
sedangkan Rasul terkadang mengikuti syariat sebelumnya -seperti Yusuf yang diutus untuk  
kaumnya dengan syariat yang dibawa oleh Ibrahim dan Ya'qub- dan terkadang 
membawa syariat baru. (Diringkas dari Syarh al 'Aqidah Ath Thahawiyah Syaikh 
Sholeh Alu Syaikh, hal 227-234)
 
3. Para Nabi dan Rasul Mengajarkan Agama yang Satu
Seluruh Nabi mengajarkan agama yang satu, walaupun mereka memiliki 
syariat-syariat yang berbeda. Allah Ta'ala berfirman,
 " Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan- 
Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah 
Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan 
janganlah kamu berpecah belah tentangnya.. "(QS. Asy Syuuraa:13)
 " Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal 
yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. 
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan 
Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku" (QS. Al Mu'minun:51-52)
 
Nabi shalallahu 'alaihi wa salaam bersabda,  " Sesungguhnya seluruh nabi 
memiliki agama yang satu, dan para nabi adalah saudara" (Muttafaqun 'alaih).
 
Agama seluruh para Nabi adalah satu, yaitu agama Islam. Allah tidak akan 
menerima agama selain Islam. Yang dimaksud dengan islam adalah berserah diri 
kepada Allah dengan mentauhidkan- Nya, tunduk kepada Allah dengan mentaatinya, 
dan menjauhkan diri dari perbuatan syirik dan orang-orang musyrik. (Al Irsyaad 
ilaa Shahiihil I'tiqaad hal 159-160).
Mendustakan Satu = Mendustakan Semuanya
Kewajiban seorang mukmin adalah beriman bahwa risalah para Rasul adalah 
benar-benar dari Allah. Barangsiapa mendustakan risalah mereka, sekalipun hanya 
salah seorang di antara mereka, berarti ia telah mendustakan seluruh para 
rasul. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala :
 " Kaum Nabi Nuh telah mendustakan para Rasul" (QS. Asy Syu'araa':105)
 
Dalam ayat in Allah menilai tindakan kaum Nuh sebagai pendustaan kepada para 
rasul yang diutus oleh Allah, padahal ketika diutusnya Nuh belum ada seorang 
Rasulpun selain Nabi Nuh 'alaihis salaam. Berdasarkan hal ini maka orang-orang 
Nasrani yang mendustakan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak mau 
mengikuti beliau berarti mereka telah mendustakan Al Masih bin Maryam (Nab Isa 
'alaihis salaam) dan tidak mengikuti ajarannya. (Syarhu Ushuulil Iman hal 34-35) 
Mengimani Nama Para Rasul
Termasuk pokok keimanan adalah kita beriman bahwa para Rasul Allah memiliki 
nama. Sebagiannya diberitakan kepada kita dan sebagiannya tidak diberitakan 
kepada kita. Yang diberikan kepada kita  seperti Muhammad, Ibrahim, Musa, 'Isa, 
dan Nuh 'alahimus shalatu wa salaam. Kelima nama tersebut adalah para Rasul 
'Ulul Azmi. Allah Ta'ala telah menyebut mereka pada dua (tempat) surat di dalam 
Al Quran yakni surat Al Ahzaab dan As Syuraa,
 " Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu 
(sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa bin Maryam." (QS. Al Ahzab:7)
 " Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang apa yang telah diwasiatkan- Nya 
kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami 
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah 
kamu berpecah-belah tentangnya" (QS. Asy Syuraa:13)
 
Adapun terhadap para Rasul yang tidak kita ketahui nama-namanya, kita beriman 
secara global. Allah Ta'ala berfirman,
" Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara 
mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang 
tidak Kami ceritakan kepadamu" (QS. Al Mukmin:78). (Syarhu Ushuulil Iman,hal 35)
 
Para Rasul Pemberi Kabar Gembira Sekaligus Pemberi Peringatan
Allah mengutus para Rasul untuk menyampaikan kabar gembira sekaligus memberikan 
peringatan. Ini merupakan salah satu dari hikmah diutusnya para rasul kepada 
manusia. Maksud menyampaikan kabar gembira adalah menyebutkan pahala bagi orang 
yang taat, sekaligus memberikan peringatan kemudian mengancam orang yang 
durhaka dan orang kafir dengan kemurkaan dan siksa Allah. Allah Ta'ala 
berfirman,
" (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi 
peringatan agar tidak ada lagi alasan bagi manusia membantah Allah sesudah 
diutusnya rasul-rasul itu" (QS. An Nisaa' 165).
 
Ayat ini merupakan dalil bahwa tugas para Rasul ialah memberikan kabar gembira 
bagi siapa saja yang mentaati Allah dan mengikuti keridhaan-Nya dengan 
melakukan kebaikan. Dan bagi siapa yang menentang perintah-Nya dan mendustakan 
para rasul-Nya akan diancam dengan hukum dan siksaan. (Husuulul Ma'muul bi 
Syarhi Tsalaatsatil Ushuulhal 195-196)
 
Nuh yang Pertama, Muhammad Penutupnya
Termasuk keyakinan Ahlus sunnah adalah beriman bahwasanya Rasul yang petama 
diutus adalah Nuh 'alaihis salaam dan yang terakhir adalah Muhammad shallallahu 
'alaihi wa sallam. Dalil yang menunjukkan bahwa Nuh adalah Rasul pertama adalah 
firman Allah,
" Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah 
memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya." (An Nisaa':163)
 
Para ulama berdalil dengan ayat ini bahwa Nuh adalah rasul pertama. Sisi 
pendalilannya adalah dari kalimat "dan nabi-nabi yang kemudiannya". Jika ada 
rasul sebelum Nuh tentunya akan dikatakan dalam ayat ini.
 
Adapun dalil dari sunnah adalah sebuah hadist shahih tentang syafa'at, ketika 
manusia (pada hari kiamat) mendatangi Nabi Adam untuk meminta syafaat, beliau 
berkata kepada mereka, 
"Pergilah kalian kepada Nuh, karena ia adalah rasul 
pertama yang diutus ke muka bumi". 
Maka mereka pun mendatangi Nuh dan berkata: 
"engkau adalah rasul pertama yang diutus ke bumi." (Muttafaqun 'alaihi). Hadist 
ini merupakan dalil yang paling kuat menunjukkan bahwa Nuh adalah rasul 
pertama. Dan Nabi Adam sendiri menyebutkan bahwa Nuh sebagai Rasul pertama di 
atas muka bumi. (Husuulul Ma'muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuulhal 196-197)
 
Sedangkan Rasul yang terakhir adalah Muhammad sholallahu 'alaihi wa salaam. 
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala.
 
" Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara 
kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi. Dia adalah Allah 
Maha Mengetahui segala sesuatu" (QS. Al Ahzab:40).
 
Rasulullah sholallahu 'alaihi wa salaam bersabda,
"Aku adalah penutup para Nabi, dan beliau berkata :' Tidak ada Nabi sesudahku". Hal ini melazimkan 
berakhirnya diutusnya para Rasul, karena berakhirnya yang lebih umum (yakni 
diutusnya Nabi) melazimkan berakhirnya yang lebih khusus (yakni diutusnya 
Rasul). Makna berakhirnya kenabian dengan kenabian Muhammad yakni tidak adanya 
pensyariatan baru setelah kenabian dan syariat yang dibawa oleh Muhammad 
shallallahu 'alaihi wa sallam. (Al Irsyaad ilaa Shahiihil I'tiqaad hal 173). 
 
Buah Manis Iman yang Benar Terhadap Para Rasul
Keimanan yang benar terhadap para Rasul Allah akan memberikan faedah yang 
berharga, di antaranya adalah:
 
1.     Mengetahui akan rahmat Allah dan perhatian-Nya kepada manusia dengan 
mengutus kepada mereka para Rasul untuk memberi petunjuk kepada mereka kepada 
jalan Allah dan memberikan penjelasan kepada mereka bagaimana beribadah kepada 
Allah  karena akal manusia tidak dapat menjangkau hal tersebut.
2.     Bersyukur kepada Allah atas nikmat yang sangat agung ini.
3.     Mencintai para Rasul,, mengagungkan mereka , serta memberikan pujian 
yang layak bagi mereka. Karena mereka adalah utusan Allah Ta'ala dan senantiasa 
menegakkan ibadah kepada-Nya sertamenyampaikan risalah dan memberikan nasehat 
kepada para hamba. (Syarhu Ushuuill Iman hal 36)
 
Semoga Allah Ta'ala senantiasa menetapkan hati kita kepada keimanan yang benar. 
Washolallahu 'alaa Nabiyyina Muhammad. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar