Rabu, 05 Oktober 2011

-Islamic religious education task - (regina,nia,ayu,nurhayati,ichaXI IPSII)

tugas PAI

-Regina harmi
-nia kurnisih
-ayu anggraeni
-nurhayati
-icha
                                           XI. IPS II




Buatlah suatu penalaahan mengenai :
1. tugas para nabi dan rasul
2. perbedaan dan persamaan antara risalah nabi muhammad dan nabi sebelumnya.....


Tugas dan Kekhususan Para Rasul Allah

Mengenal para Rasul yang diutus kepada umat manusia merupakan perkara penting dan sangat dibutuhkan kaum muslimin, baik berkenaan dengan iman, tugas, kekhususan dan kehidupan mereka agar dapat dijadikan suri teladan bagi manusia.
Apalagi dimasa kini dan khususnya kaum muslimin yang sudah jauh dari kenabian dan ajarannya. Sehingga sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk mengajak saudaranya mengenal kembali permasalahan ini sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah.
Tugas Para Rasul
Para rasul memiliki tugas yang banyak, diantaranya:
1. Tugas agung mereka mengajak manusia beribadah kepada Allah dan meninggalkan sesembahan selain-Nya
Dakwah kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah merupakan dasar dan jalan dakwah para rasul seluruhnya. Hal ini dikabarkan Allah Ta’ala dalam firmanNya:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu‘ “ (QS. An Nahl:36)
Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan tugas, dasar dakwah dan inti risalah para rasul yaitu mengajak kepada tauhid, mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah dan menjauhi segal sesembahan selainNya.
Hal inipun disampaikan dalam firmanNya:
وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : ‘Bahwasanya tidak ada Ilah(yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’”. (QS. Al Anbiya: 25)
Hal ini dikarenakan para rasul diutus untuk menjelaskan jalan menuju tujuan penciptaan manusia yang Allah jelaskan dalam firmanNya:
وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُون
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56)
Demikian juga tauhid merupakan asas fitroh manusia yang diperintahkan untuk ditegakkan dalam firmanNya:
} فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَتَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَلاَتَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertaqwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah” (QS. Ar Rum: 30-31)
para rasul mengajak umatnya untuk mewujudkan tauhid dalam diri-diri mereka dan mengeluarkan segala kemampuannya untuk merealisikan dakwahnya tersebut. Cukuplah kisah nabi Nuh dalam surat Nuh sebagai contoh kegigihan mereka dalam mendakwahkan tauhid pada kaumnya.
2. Menyampaikan syari’at Allah kepada manusia dan menjelaskan agama yang diturunkan kepada manusia, sebagaimana firman Allah:
يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآأُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al Ma’idah:67).
Demikian juga firmanNya:
بِالبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Keterangan-keterangan (mu’jizat) dan kitab-kitab.Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan” (QS. An Nahl: 44)
3. Menunjukkan umat kepada kebaikan dan mengabarkan mereka tentang pahala yang disiapkan bagi pelaku kebaikan dan memperingatkan mereka dari kejelekan dan siksaan yang disiapkan orang-orang yang durhaka, sebagaimana firman Allah:
رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةُُ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. An Nisa: 165)
4. Memperbaiki manusia dengan teladan dan contoh yang baik dalam perkataan dan perbuatan, sebagaimana firman Allah :
أُوْلَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُل لآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ
Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah:”Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur’an)”. al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat (QS. Al An’am:90)
Juga ditegaskan dalam firmanNya:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.Al Ahzab:21)
5. Menegakkan dan menerapkan syari’at Allah diantara hamba-hambaNya, firman Allah Ta’ala:
وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ وَلاَتَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَآ أَنزَلَ اللهُ إِلَيْكَ فَإِن تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik (QS. Al Ma’idah:49)
6. Menjadi saksi sampainya penjelasan syariat kepada manusia. Allah Ta’ala berfirman:
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَى هَآؤُلاَءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
(Dan ingatlah) akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka darimereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammmad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri” (QS. An Nahl:89)
dan firmanNya:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu (QS. Al Baqarah:143)
Imam Abul Qasim Al Ashbahani menyatakan dalam muqaddimah kitab beliau: “Segala puji bagi Allah yang telah menampakkan tanda-tanda kebenaran lalu menjlaskannya dan telah memunculkan manhaj agama ini lalu menerangkannya. Dialah yang telah menurunkan Al Qur’an lalu seluruh hujjah ada padanya dan mengutus Muhammad sebagai Rasul, sehingga memutus seluruh alasan (untuk berpaling). Kemudian Rasulullah telah berda’wah, bersungguh-sungguh dan berjihad serta menjelaskan jalan kebenaran kepada umat ini. Beliau juga menyampaikan syariat kepada mereka syari’at agar mereka tidak menyatakan: ‘Belum datang kepada kami pemberi kabar gembira (Basyir) dan pemberi peringatan (Nadzir)’
Demikianlah beberapa tugas penting para Nabi dan Rasul.
Kekhususan Para Nabi dan Rasul
Allah Ta’ala telah memilih diantara para hambaNya sebagai Nabi dan Rasul dengan memberikan beberapa kekhususan yang tidak dimiliki hamba-hambaNya yang lain. Diantara kekhususan para Nabi dan Rasul tersebut adalah:
1. Wahyu
Allah Ta’ala telah mengkhususkan mereka dengan wahyu, sehingga mereka menjadi perantara Allah dengan hamba-hambaNya. Hal ini telah ditegaskan dalam firmanNya:
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا بَشَرٌ مِّثْلَكُمْ يُوحَى إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلاَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa‘ “. (QS. Al Kahfi: 110)
Demikianlah, diantara Nabi dan Rasul ada yang langsung berbicara dengan Allah dan ada pula yang melalui perantara malaikat Jibril ‘Alaihissalam, sehingga mereka dapat mengetahui perkara-perkara gaib dengan wahyu tersebut.
2. Kemaksuman (Al Ishmah).
Seluruh umat sepakat bawha para rasul memiliki kemaksuman dalam menerima risalah Allah, sehingga mereka tidak lupa sedikitpun wahyu yang Allah turunkan kepada mereka dan memiliki kemaksuman dalam penyampaian wahyu tersebut kepada manusia. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:
سَنُقْرِئُكَ فَلاَتَنسَى
Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa” (QS. Al A’laa: 6)
Dan firmanNya:
يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآأُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
“Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (QS. Al Ma’idah: 67).
Demikian juga Allah mempertegas dengan firmanNya:
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ اْلأَقَاوِيلِ لأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ فَمَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ
Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. (Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu (QS. Al Haaqah:44-47)
3. Diberi pilihan ketika akan dicabut nyawanya
Hal ini ditunjukkan oleh hadits ‘Aisyah Radhiallahu’anha, beliau berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ نَبِيٍّ يَمْرَضُ إِلَّا خُيِّرَ بَيْنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَكَانَ فِي شَكْوَاهُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ أَخَذَتْهُ بُحَّةٌ شَدِيدَةٌ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ فَعَلِمْتُ أَنَّهُ خُيِّرَ
“Aku mendengar Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Tidak ada seorang nabipun yang sakit kecuali diminta memilih antara dunia dan akhirat’. Beliau pada sakit mendekati kematian beliau, mengeluarkan suara parau sekali, sehingga aku mendengarnya, beliau mengatakan : ‘ Bersama orang yang Allah berikan kenikmatan pada mereka dari kalangan para nabi, shidiqin, syuhada dan sholihin’. Lalu aku tahu beliau sedang diberi pilihan.
4. Dikuburkan ditempat meninggalnya
Seorang Nabi bila meninggal dunia di suatu tempat, maka ia dikuburkan di tempat tersebut. Hal ini didasari hadits Abu Bakar Radhiallahu’anhu, beliau berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَنْ يُقْبَرَ نَبِيٌّ إِلَّا حَيْثُ يَمُوتُ فَأَخَّرُوا فِرَاشَهُ وَحَفَرُوا لَهُ تَحْتَ فِرَاشِهِ رَوَاهُ أَحْمَد
Aku mendengar Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda seorang nabi tidak dikuburkan kecuali ditempat kematiannya dengan menyingkirkan pembaringannya dan dibuat lubang dibawah pembaringannya tersebut
5. Jasadnya tidak dimakan bumi
Allah memuliakan jasad para Nabi dengan membuatnya tidak hancur oleh tanah yang menguburnya walaupun telah berlalu waktu yang sangat lama. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam sabdanya:
إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya Allah Tabaraka Wa Ta’ala mengharamkan tanah menghancurkan jasad para nabi”
6. Mata mereka terpejam tidur namun hatinya tetap sadar dan bangun
Demikianlah hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang berbunyi:
تَنَامُ عَيْنِي وَلَا يَنَامُ قَلْبِي
Mataku tidur namun hatiku tidak tidur
Berkata Anas bin Malik Radhiallahu’anhu ketika mengisahkan kisah Isra’ Mi’raj :
وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَائِمَةٌ عَيْنَاهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ وَكَذَلِكَ الْأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلَا تَنَامُ قُلُوبُهُمْ
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam matanya tidur namun hatinya tidak tidur dan demikian juga para nabi mata mereka tidur sedang hati mereka tidak tidur
7. Tetap hidup dikuburan mereka
Para Nabi dan Rasul walaupun telah meninggal dunia, namun mereka tetap hidup dikuburannya dalam keadaan shalat, sebagaimana diberitakan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam sabdanya:
الأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِيْ قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ
Para nabi itu tetap hidup dikuburan mereka dalam keadaan sholat
Demikianlah tugas dan kekhususan para nabi secara umum dan ringkas, mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan kita dan membawa kita kepada iman yang benar terhadap mereka.
Wallahu A’lam.


Adapun tugas-tugas yang Allah berikan kepada para Rasul antara lain sebagai berikut:

1. Menegakkan Kalimat tauhid (kalimat : Laa ilaaha illallaah)

· Firman Allah SWT didalam kitab suci Al-Qur’an:

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya: 25)



2. Menyeru manusia untuk menyembah hanya kepada Allah.

· Firman Allah SWT :


“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan : “Sembahlah Allah saja dan jauhilah thoghut….” (QS. An-Nahl: 36)

3. Membawa Rahmat

· Allah SWT berfirman didalam kitab suci Al-Qur’an:



“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

4. Memberikan petunjuk kejalan yang benar.

· Allah SWT berfirman:



“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan…” (QS. Fathir: 24)

5. Memberi peringatan kepada manusia

· Allah SWT Berfirman:




“Dan tidaklah Kami mengutus para Rasul itu, melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan …” (QS. Al-An’am: 48)

6. Memberi suri teladan yang baik.

· Nabi Muhammad SAW bersabda:


“Sesungguhnya aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad)

Didalam mengemban tugas-tugas tersebut, para Rasul mendapat tantangan dari kaumnya, karena itulah, untuk membuktikan kerasulan dan kebenaran ajaran yang dibawanya, para Rasul dilengkapi oleh Allah SWT dengan mukjizat, yaitu suatu kemampuan luar biasa yang tidak dapat ditiru oleh manusia biasa, yang terjadi semata-mata atas izin Allah SWT. Mukjizat para Rasul itu berbeda-beda satu sama lain sesuai dengan kecenderungan umat masing-masing atau situasi yang menghendaki. MIsalnya mukjizat Nabi Ibrahim as tidak hangus terbakar api, Nabi Nuh as dapat membuat perahu besar yang dapat menyelamatkan semua umatnya yang beriman kepada Allah dan hewan-hewan dari bencana banjir, Nabi Musa as memiliki tongkat yang dapat berubah menjadi ular untuk mengalahkan para tukang sihir Fir’aun dan dapat membelah laut merah menjadi jalan raya, Nabi Isa as dapat menghidupkan orang yang sudah mati dengan seizin Allah SWT serta dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit yang sulit disembuhkan seperti penyakit kusta dan buta sejak lahir dan Nabi Muhammad SAW memiliki Al-Qur’an yang merupakan kitab suci lengkap serta terjaga kemurniannya sepanjang masa (universal).

Kejadian yang luar biasa itu bisa juga terjadi pada orang-orang yang shaleh yang sangat dekat dengan Allah SWT atau yang biasa disebut Waliyullah (wali Allah). Kejadian yang luar biasa itu jika terjadi pada para Rasul disebut Mukjizat dan jika terjadi pada para waliyullah disebut Karomah.

Baik Mukjizat maupun karomah, keduanya hanya semata-mata pemberian Allah SWT. Sama sekali tidak bisa diusahakan atau dipelajari, apalagi diajarkan. Dengan demikian, nyatalah bagi kita bahwa kesaktian yang dimiliki oleh orang-orang tertentu yang bisa dipertontonkan, bisa diajarkan dan bisa pula dipelajari, bukan merupakan karomah.

Secara umum setiap Nabi dan Rasul memiliki sifat-sifat yang mulia dan terpuji sesuai dengan statusnya sebagai manusia pilihan Allah SWT. Dan secara khusus setiap Rasul memiliki empat sifat yang erat kaitannya dengan tugas sebagai utusan Allah, yaitu membimbing umat menempuh jalan yang diridhoi Allah SWT. Keempat sifat tersebut sebagai berikut :

1. Shiddiq (benar), artinya selalu berkata benar, tidak pernah berdusta dan apapun yang dikatakan selalu mengandung kebenaran.

2. Amanah (dapat dipercaya), artinya seorang Rasul selalu menjaga dan menunaikan amanah yang dipikul kan kepundaknya. Perbuatannya selau sama dengan perkataannya. Dia akan selalu menjaga amanah kapan dan dimana pun, baik dilihat dan diketahui oleh orang ataupun tidak.

3. Tabligh (menyampaikan), artinya seorang Rasul akan menyampaikan apa saja yang diwahyukan oleh Allah SWT kepadanya.

4. Fathonah (cerdas), artinya seorang Rasul memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, pikiran yang jernih, penuh kearifan dan bijaksana. Dia akan mampu mengatasi persoalan yang paling rumit tanpa harus meninggalkan kejujuran dan kebenaran.

Setiap Nabi dan Rasul makshum, artinya terpelihara dari segala macam kemaksiatan dan dosa, baik itu dosa kecil maupun dosa besar. Tetapi sebagai manusia biasa Nabi dan Rasul juga tidak terbebas dari sifat khilaf dan keliru. Sifat khilaf dan keliru tidaklah menghilangkan sifat kemakshuman Nabi dan Rasul, karena kekhilafan dan Kekeliruan betapapun kecilnya selalu mendapat koreksi dari Allah SWT, sehingga selain dari hal-hal yang dikoreksi itu, para Nabi dan Rasul selalu menjadi panutan dan teladan bagi umat manusia, terutama para pengikutnya.

· Perhatikan Firman Allah SWT :



“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu Uswatun Hasanah (contoh teladan yang baik) bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)


- PERSAMAAN ASPEK KENABIAN NABI MUSA & NABI MUHAMMAD SAW.

Aspek Kenabian Musa as
1 . Nabi, Rasul & Imam
2 . Membawa Kitab Taurat untuk Bangsa Israel.
3. Bermigrasi/Hijrah
4. Menghadap Tuhan untuk menerima perintah-Nya bagi bangsa Israel
5. Mengangkat Mantan Hamba Sahayanya menjadi Panglima Militer sebelum wafat- nya.
6. Mengangkat seorang anggota Keluarga-nya menjadi Penggantinya (Wasiy) dan sebagai Imam Pertama bagi umatnya
7. Mempunyai 12 orang Imam, dan salah satunya yang menjadi Imam Besar berasal dari keturunan Penggantinya
8. Penggantinya dan keturunannya di sucikan untuk menjadi Imam Besar Bangsa Israel
9. Kepemimpinan Penggantinya di khianati oleh sebagian umatnya
Aspek kenabian Nabi Muhammad sebagai mesiah universal
1. Nabi, Rasul, Imam dan Tuan para Nabi & Rasul/Nabi Penutup
2. Membawa Kitab Baru dari Tuhan sebagai Perjanjian Baru untuk seluruh umat manusia
3. Bermigrasi/Hijrah
4. Menghadap Tuhan untuk menerima PerintahNya bagi seluruh umat manusia.
5. Mengangkat Mantan Hamba Sahayanya menjadi Panglima Militer sebelum wafat nya.
6. Mengangkat serang anggota keluarganya sebagai penggantinya dan sebagai imam pertama bagi umatnya
7. Mempunyai 12 orang Imam dari keturunan Penggantinya
8. Penggantinya dan keturunannya di sucikan untuk menjadi Imam Universal.
9. Kepemimpinan Penggantinya di khianati oleh sebagian umatnya
Dikarenakan adanya perbedaan pandangan antara kedua golongan Islam (Sunni dan Syi’ah), maka umat Islam hanya sepakat bulat dalam pemenuhan Aspek ke-1 s/d ke-5 dari persamaan antara Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa as, yaitu:
Aspek-1 : Muhammad SAW adalah Nabi, Rasul, Imam dan Tuan para Nabi & Rasul/Nabi Penutup.
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. Al Ahzab [33] : 40).
Aspek-2 : Nabi Muhammad SAW membawa Al Qur’an yang bersisikan hukum/ perjanjian baru bagi seluruh umat Manusia.
Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,
(QS. Al Furqon [25] : 1)
Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,….(QS. An Nahl [16]: 44)
Aspek-3 : Nabi Muhammad SAW berhijrah dari Mekkah ke Madinah
Hai Nabi, …………..…… yang turut hijrah bersama kamu ………… Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Al Ahzab [33]: 50)
Aspek-4 : Nabi Muhammad SAW menghadap langsung Allah SWT di dalam peristiwa Isra Mi’raj.
Aspek-5 : Nabi Muhammad SAW beberapa saat menjelang kewafatannya mengangkat mantan hamba sahayanya yaitu “Zayd bin Haritzah” sebagai Panglima Pasukan, tetapi didalam pertempuran awal Zayd bin Haritzah gugur/syahid, kemudian didalam keadaan sakit yang semakin parah, Beliau SAW mengangkat Usamah bin Zayd (anak laki-2 Zayd bin Haritzah) yang masih berumur 18 tahun sebagai Panglima Pasukan menggantikan bapaknya yang mantan hamba sahaya Nabi Muhammad SAW.
Tindakan Nabi Muhammad SAW mengangkat Zayd bin Haritzah maupun Usamah bin Zayd mengundang tanda-tanya besar (kalau tidak bisa dikatakan sebagai protes halus) dikalangan para Sahabat Beliau SAW, karena masih banyak di antara para Sahabat yang berdasarkan kemampuan berperang berada jauh di atas kemampuan Zayd dan Usamah. Apalagi mengingat usia Usamah masih sangat muda untuk diangkat sebagai Panglima Pasukan.
Ke-engganan umat Islam untuk bergabung kedalam pasukan Usamah, sampai2 menyebabkan Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sakit yang semakin parah dan hanya beberapa hari saja menjelang Beliau SAW dipanggilan ke Rahmatullah, terpaksa keluar dari kamarnya dengan dipapah dan naik ke mimbar masjid untuk berpidato menegaskan kembali akan keputusan-nya mengangkat Usamah sebagai Panglima dan memerintahkan agar pasukan Usamah segera berangkat
.
Banyak sekali umat Islam, bahkan sampai masa kini, tidak memahami latar belakang keputusan Nabi Muhammad SAW untuk mengangkat Zayd bin Haritzah dan Usamah bin Zayd sebagai Panglima Pasukan Islam, sampai2 Beliau SAW dalam keadaan sakit yang semakin parah dan hanya beberapa hari saja menjelang kewafatannya, bersikap sangat gigih mempertahankan keputusannya itu.
Tetapi jika masalah ini dilihat dari sisi Nubuat Mesianistik, khususnya berkaitan dengan Aspek Ke-5 kesamaan dengan Nabi Musa as, maka sesungguhnya sangat jelas latar belakang keputusan Nabi Muhammad SAW di dalam mengangkat Zayd bin Haritzah dan Usamah bin Zayd, yaitu Nabi Muhammad SAW se-mata2 ingin menyatakan dan membuktikan bahwa Beliau adalah sama seperti Nabi Musa as, yang menjelang kewafatannya juga mengangkat mantan hamba sahayanya menjadi Panglima Pasukan, yaitu Yusya bin Nun (Yoshua bin Nun/Nabi Dzulkifli).
Aspek -6 :Mengangkat seorang anggota Keluarganya menjadi Penggantinya/ Penerusnya (Wasiy) dan sebagai Imam Pertama bagi umatnya.
Golongan Suni :
Sekalipun mengakui adanya hadisth Nabi Muhammad SAW yang berbunyi : “Hai Ali !, Tidakkah kamu menyukai (kedudukanmu) dariku seperti kedudukan Harun as dari Musa?”
Namun hadist ini tidak dimaknai sebagai pengangkatan Ali bin Abi Thalib (sepupu dan menantu Nabi SAW) menjadi Pengganti/Penerus (Wasiy) Nabi Muhammad SAW. Golongan Suni sama sekali tidak mengakui kedudukan Ali Bin Abi Thalib sebagai Wasiy Nabi SAW, bahkan menurut mereka Wasiy Nabi SAW adalah seseorang yang dipilih/diangkat atas kesepakatan umat, dan yang pertama adalah Abu Bakar yang dipilih/diangkat di Balai Pertemuan Bani Saidah di Saqifah. Dengan demikian secara tidak disadari mereka telah menolak kemesiahan universal Nabi Muhammad Saaw.
Golongan Syi’ah:
Hadisth Nabi Muhammad SAW yang berbunyi : “Hai Ali !, Tidakkah kamu menyukai (kedudukanmu) dariku seperti kedudukan Harun as dari Musa?”, dimaknai sebagai isyarat dari Nabi Muhammad SAW bahwa Ali bin Abi Thalib adalah merupakan Penerus/Pengganti (wasiy) Beliau SAW untuk memimpin umat sebagai Imam Pertama.
Isyarat hadist di atas kemudian diwujudkan oleh Nabi Muhammad SAW sepulangnya dari Haji Wada ditengah perjalanan menuju Madinah disuatu perempatan yang dinamakan Gadhir Khum, pada tanggal 18 Dzulhijjah 10 H, dihadapan 120.000 umat Islam, berupa pengangkatan resmi Ali bin Abi Thalib sebagai Penerus/Pengganti (Wasiy) Nabi SAW sebagai pemimpin umat (Imam) setelah Nabi SAW.
Peristiwa Ghadir Khum di riwayatkan oleh 110 perawi hadist dan dimuat oleh ratusan kitab hadist baik dari Golongan Suni maupun Golongan Syi’ah. Tetapi anehnya tidak termuat di dalam 6 Kitab Hadist (Kuttubus Sittah) yang diakui oleh Golongan Suni sebagai kitab2 hadist yang sahih dan boleh dijadikan pegangan. Padahal Hadist Gadhir Khum ini merupakan Hadist Sahih yang Muttawatir (artinya kebenaran-nya dianggap mutlak karena diriwayatkan oleh banyak jalur perawi yang dipercaya)
Dengan demikian jika berpegang pada pandangan Golongan Suni, maka Nabi Muhammad SAW tidak memenuhi Aspek ke-6 dari persamaan dengan Nabi Musa, karena Beliau SAW tidak mengangkat anggota keluarganya sebagai Pemimpim/Imam umat Islam. Sedangkan menurut pandangan Golongan Syi’ah justru sebaliknya, bahwa Nabi Muhammad SAW telah memenuhi Aspek ke-6 dari persamaan dengan Nabi Musa, dengan mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai Wasiy Beliau SAW.
Bahwasanya Golongan Suni tidak mengakui pengangkatan Ali bin Abi Thalib tersebut, tidaklah menjadikan pengangkatan itu menjadi tidak ada. Karena bukti hadist dan sejarah tetap menunjukkan Nabi Muhammad SAW telah mengangkat salah seorang anggota keluarga-nya sebagai Penerus/Pengganti/Wasiy dan Imam Pertama bagi umatnya.
Aspek-7: Mempunyai 12 orang Imam dari keturunan Penggantinya
Golongan Suni :
Sekalipun mengakui adanya Hadisth tentang 12 Imam sebagai hadist yang sahih dan muttawatir, tetapi berpendapat bahwa pengangkatan ke-12 Imam ini adalah berdasarkan pemilihan/kesepakatan umat Islam.
Tetapi kemudian Golongan Suni mengalami kesulitan karena tidak bisa menyebutkan/menetapkan siapakah ke duabelas Imam itu, bahkan sampai ada yang nekat memasukkan yazid bin muawiyah sebagai salah satu dari 12 imam padahal ia termasuk orang yang zalim. Akhirnya Hadist 12 Imam ini tidak pernah lagi dimunculkan dalam syariat maupun aqidah Suni.
Golongan Syi’ah :
Sebaliknya Golongan Syi’ah mengakui adanya 12 Imam setelah Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat. Hanya saja berbeda dengan 12 Imam pada Nabi Musa as (Bani Israel) yang keberadaannya sekaligus 12 Imam (horizontal) pada setiap masa, maka 12 Imam pada Nabi Muhammad SAW adalah berurut kebawah (vertikal), sesuai dengan ruang-lingkup waktu misi Nabi Muhammad SAW sebagai Mesiah Universal di akhir jaman.
Adapun ke 12 Imam menurut pandangan Syiah adalah :
1. Imam ‘Ali bin Abu Thalib as – Amirul mukminin Ash Shidiq Al Faruq
2. Imam Hasan as – Al Mujtaba
3. Imam Husein as – Sayyidu Syuhada
4. Imam ‘Ali bin Husein as – As Sajjad Zainal Abidin
5. Imam Muhammad bin ‘Ali as – Al Baqir
6. Imam Ja’far bin Muhammad as – Ash Shadiq
7. Imam Musa bin Ja’far as – Al Kadzim
8. Imam ‘Ali bin Musa as – Ar Ridha
9. Imam Muhammad bin ‘Ali as – Al Jawad At Taqi
10. Imam ‘Ali bin Muhammad as – Al Hadi At Taqi
11. Imam Hasan bin ‘Ali as – Az Zaki Al Askari
12. Imam Muhammad bin Hasan as – Al Mahdi Al Qoim Al hujjah Al Muntadzar Sohib Al Zaman Hujjatullah.
Dengan demikian jika berpegang pada pandangan Golongan Suni, maka Nabi Muhammad SAW tidak memenuhi Aspek ke-7 dari persamaan dengan Nabi Musa, karena Beliau SAW tidak mempunyai 12 Pemimpim/Imam yang berasal dari keturunannya Penggantinya (Wasiy).
Sedangkan menurut pandangan Golongan Syi’ah justru sebaliknya, bahwa Nabi Muhammad SAW telah memenuhi Aspek ke-7 dari persamaan dengan Nabi Musa, karena Beliau SAW mempunyai 12 Pemimpim/Imam yang berasal dari keturunannya Penggantinya (Wasiy), yaitu dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra Binti Muhammad SAW.
Aspek-8: Penggantinya dan keturunannya di sucikan untuk menjadi Imam Universal.
Golongan Suni :
Sekalipun mengakui bahwa bahwa ayat pada QS. Al Ahzab [33]: 33 adalah berkenaan dengan penyucian, tetapi yang disucikan adalah anggota keluarga (Ahlul Bayt) Nabi Muhammad SAW, yang terdiri dari Nabi SAW sendiri, semua isteri Beliau, anaknya (Fatimah Az-Zahra), menantunya (Ali bin Abi Thalib) dan kedua cucunya (Hasan & Husein).
Dan penyucian tersebut se-mata2 bertujuan untuk menyucikan Ahlul Bayt Nabi SAW dari semua dosa, tidak ada tujuan lainnya.
Golongan Syi’ah :
Penyucian yang dimaksud pada QS. Al Ahzab [33]: 33 hanya berkena-an dengan anggota keluarga (Ahlul Bayt) Nabi Muhammad SAW, yang terdiri dari Nabi SAW sendiri, anaknya (Fatimah Az-Zahra), menantu-nya (Ali bin Abi Thalib) dan kedua cucunya (Hasan & Husein). Sedang-kan isteri2 Nabi SAW tidak termasuk didalamnya. Asbabun Nuzul ayat ini diperkuat dengan Hadist Al Kisa yang diakui oleh seluruh umat Islam sebagai Hadist Muttawatir.
Mengapa isteri2 Nabi SAW tidak termasuk didalam “Ahlul Bayt” yang disucikan ?
Pertama, karena penyucian ini adalah dalam rangka persiapan anggota keluarga Nabi SAW untuk menduduki jabatan Imam bagi seluruh Umat Manusia (lihat : penyucian Nabi Harun as dan anak-2nya yang akan menjabat kedudukan Imam Besar umat Israel pada Tanakh/Injil Perjanjian Lama Kitab Keluaran 40: 12-15)
Kedua, adalah aneh jika isteri2 Nabi SAW yang ada pada saat QS. Al Ahzab [33]: 33 diturunkan di sucikan, tetapi isteri Nabi SAW yang paling utama dan merupakan salah satu dari 4 wanita utama umat manusia, yaitu Khadijah Al Kubra tidak ikut di sucikan, karena telah jauh sebelumnya wafat.
Dengan demikian jika berpegang pada pandangan Golongan Suni, maka Nabi Muhammad SAW tidak memenuhi Aspek ke-8 persamaan dengan Nabi Musa, karena penyucian terhadap anggota keluarga Nabi SAW tidak ada kaitannya dengan pengangkatan Pemimpin/Imam
Sedangkan menurut pandangan Golongan Syi’ah justru sebaliknya, bahwa Nabi Muhammad SAW telah memenuhi Aspek ke-6 dari persamaan dengan Nabi Musa, karena penyucian anggota keluarga Nabi SAW adalah justru dalam rangka persiapan menjadi Imam bagi Penggantinya (Wasiy) yaitu Ali bin Abi Thalib beserta anak2nya.
Aspek-9: Kepemimpinan Penggantinya di khianati oleh sebagian umatnya
Golongan Suni :
Karena tidak mengakui pengangkatan Imam ‘Ali bin Abi Thalib sebagai Penerus/Pengganti Nabi Muhammad SAW dengan kedudukan Imam (pemimpin) bagi umat Islam, maka Golongan Suni berpandangan tidak ada perbuatan penghianatan terhadap kepemimpinan Penerus/-Pengganti Nabi Muhammad saw.
Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah setelah wafatnya Nabi Muhammad saw adalah sah menurut golongan sunni karena didasarkan pada kesepakatan (musyawarah) umat Islam yang dilaksanakan di Saqifah, Balai Pertemuan Bani Saidah.
Golongan Syi’ah:
Pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai Imam (pemimpin) umat Islam (setelah Nabi SAW) oleh Nabi Muhammad SAW sendiri di Gadhir Khum adalah merupakan ketetapan Nabi SAW yang wajib di taati. Jika kemudian segelintir umat Islam yang berkumpul di Balai Pertemuan Saqifah Bani Saidah, memilih Abu Bakar sebagai Khalifah pertama setelah wafatnya Nabi SAW, maka perbuatan itu merupakan pembangkangan terhadap Ketetapan Nabi Muhammad SAW serta merupakan pengkhianatan terhadap Ali bin Abi Thalib yang telah diangkat sebagai Pemimpin/Imam Umat Islam. (Lihat Peristiwa Penolakan Bani Israel terhadap Pengangkatan Nabi Harun as sebagai Pengganti/Penerus Nabi Musa as pada Kemah Pertemuan Bani Korah, pada halam 32 s/d 36 )
Dengan demikian jika berpegang pada pandangan Golongan Suni, maka Nabi Muhammad SAW tidak memenuhi Aspek ke-9 persamaan dengan Nabi Musa as, karena tidak ada perbuatan penghianatan terhadap Pemimpin/Imam, sebab memang Beliau SAW tidak pernah mengangkat anggota keluarganya (Ali bin Abi Thalib as) sebagai Pemimpin/Imam umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad SAW.
Sedangkan menurut pandangan Golongan Syi’ah justru sebaliknya, bahwa Nabi Muhammad SAW telah memenuhi Aspek ke-9 dari persamaan dengan Nabi Musa, karena pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah pertama di Saqifah Bani Saidah jelas merupakan tindakan penghianatan terhadap Ali bin Abi Thalib yang telah diangkat oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Pemimpin/Imam Umat Islam di Gadhir Khum pada tanggal 18 Dzulhijjah 10 H.
Perbedaan pandangan diantara Golongan Suni dan Golongan Syi’ah di atas, membawa implikasi terhadap pemenuhan kriteria Nabi Muhammad SAW sebagai Sang Mesiah Universal, khususnya dalam dalam kriteria “sama seperti Nabi Musa as” .
Apabila mengikuti pandangan Golongan Suni, maka tentunya akan sulit meyakinkan umat beragama lainnya tentang keabsahan Nabi Muhammad SAW sebagai Sang Mesiah Universal, karena pandangan Golongan Suni menafikan (menolak) adanya kesamaan antara Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa as, khususnya berkaitan dengan Aspek Kenabian Ke-6 s/d Ke-9.
Sedangkan menurut pandangan Golongan Syi’ah, keseluruhan Aspek Kenabian (9 Aspek) pada Nabi Muhammad SAW adalah sesuai/sama seperti Nabi Musa as, sehingga menurut pandangan Golongan Syi’ah, tidak ada keraguan sedikitpun dan sepenuhnya dapat dibuktikan tentang keabsahan Nabi Muhammad SAW sebagai Sang Mesiah Universal.
Adanya dua pandangan yang berbeda di antara umat Islam tentang pemenuhan persyaratan kesamaan 9 aspek kenabian antara Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa as sebagaimana di uraikan di atas, sesungguhnya tidak membawa konsekwensi apapun terhadap keabsahan Nabi Muhammad SAW sebagai Sang Mesiah Universal.
Sebagaimana dapat dimisalkan dengan 3 (tiga) orang buta yang berkumpul pada sebuah tanah lapang di siang hari. Ketiganya tidak bisa melihat matahari yang sedang bersinar terang. Tetapi ketidak mampuan mereka untuk melihat matahari, tidaklah berarti atau tidaklah mengakibatkan matahari tersebut menjadi tidak ada. Keberadaan Matahari tidak tergantung dari mampu atau tidak mampunya manusia melihatnya.
Demikian juga kebenaran dan keabsahan Nabi Muhammad SAW sebagai Sang Mesiah Universal tidaklah tergantung pada pandangan golongan-2 umat Islam yang menafikan adanya unsur2/faktor2 persyaratan sebagai Mesiah Universal pada diri Nabi Muhammad SAW, sekalipun mereka itu merupakan golongan yang mayoritas dari umat Islam.
Dalam kontek inilah hendaknya dipahami firman Allah SWT berikut ini :
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (QS. Al An’am [6]: 116)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.(QS. Al Maidah [5]: 57)
Sekalipun pandangan Golongan Suni seperti yang diuraikan di atas mengakibat-kan sebahagian aspek kenabian Nabi Muhammad SAW menjadi “tidak seperti Nabi Musa as”, yaitu aspek ke-6 s/d ke-9, namun hal ini bukan berarti Golongan Suni tidak mempercayai/meyakini bahwasanya Nabi Muhammad SAW adalah “Pembawa Rahmat bagi Alam Semesta” yang bermakna juga sebagai Mesiah Universal. Hanya saja keyakinan tersebut se-mata2 di dasarkan pada Al Qur’an, tanpa didukung pembuktian yang terukur dengan alat ukur yang telah ditentukan berdasarkan Nubuat2 Mesianistik, sehingga keyakinan termaksud tidak dapat dijadikan hujjah (argumentasi) untuk menyakinkan umat non-Islam (yang tidak mempercayai Al Qur’an) tentang aspek kenabian Nabi Muhammad SAW yang “sama seperti Nabi Musa as”.
Dilain pihak, pandangan Golongan Suni yang berkaitan dengan Nubuat Mesianistik ini justru menguntungkan umat agama lainnya, terutama Umat agama Yahudi. Mengapa ?
Aqidah agama Yahudi sepenuhnya bertumpu pada harapan kedatangan Sang Mesiah Universal yang akan mengangkat derajat bangsa Israel pada tingkat yang paling tinggi di antara semua bangsa yang ada di dunia. Tanpa adanya harapan ini, maka umat Yahudi akan tercerai-berai mengikuti agama-agama lainnya.
Apabila ternyata Sang Mesiah Universal (yang di-tunggu2) sudah datang dan derajat Bangsa Israel tidak terangkat sampai puncak yang paling tinggi di antara umat manusia, maka tentunya kenyataan itu akan menghapuskan harapan umat Yahudi, dan pada gilirannya akan menghancurkan sendi2 ke-imanan mereka akan kebenaran agama Yahudi.
Oleh karena itu selama harapan umat Yahudi belum terwujud, maka mereka akan dan harus menolak semua klaim atas kemunculan Mesiah Universal yang tidak sejalan dengan harapan2 mereka.
Sebenarnya para pemimpin agama Yahudi (Rabi2) sejak awal kelahiran Nabi Muhammad SAW telah mengetahui bahwa Beliau SAW merupakan Mesiah Universal yang ditunggu2 dan dikhabarkan di dalam Nubuat2 Mesianistik pada Kitab2 Suci terdahulu. Hal inilah yang dikatakan di dalam Al Qur’an :
Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.(QS. Al Baqarah [2] : 146)
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.(QS. Al A’raf [7]: 157)
Keberadaan komunitas Yahudi di Semenanjung Arab (Madinah dan Khaibar) sebenarnya dilatar belakangi oleh pengetahuan mereka tentang kedatangan Mesiah Universal dari wilayah ini. Umat Yahudi memang me-nunggu2 kedatangan Sang Mesiah Universal tetapi bukan untuk mengikutinya, melainkan untuk menggagalkan baik kedatangan maupun misi Sang Mesiah Universal ini. Karena kedatangan Mesiah Universal dari tanah Arab yang bukan berasal dari keturunan Nabi Ishak as dan bukan pula dari garis keturunan Nabi Daud as (Suku Yehuda), akan membuka rahasia kepalsuan nubuat2 mesianistik yang mereka buat2 sendiri dan pada gilirannya akan memporak-porandakan sendi-2 aqidah dan keimanan agama Yahudi.
Sejarah Islam meriwayatkan hal-2 yang berkaitan dengan aktivitas umat Yahudi di Semenanjung Arab guna menggagalkan kedatangan dan misi Nabi Muhammad SAW sebagai Mesiah Universal, di antaranya :
1. Dimasa kanak2 nya Nabi Muhammad SAW diriwayatkan adanya peringatan tentang usaha pembunuhan atas Nabi Muhammad SAW oleh orang2 Yahudi ;
2. Selama Nabi Muhammad SAW berada di Madinah, sejak awal sampai akhir umat Yahudi baik secara terang2an maupun sembunyi2 (bekerja sama dengan kaum Musyrik Mekkah) senantiasa berupaya menggagalkan misi Nabi Muhammad SAW.
3. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, umat Yahudi tetap berupaya merusak agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dari dalam dengan cara membuat hadist2 palsu, yang dikenal sebagai “Hadist Israiliyat”, bekerjasama dengan beberapa unsur umat Islam (munafiqun).
Pandangan dikalangan mayoritas umat Islam sendiri yang secara langsung berakibat (se-olah2) aspek kenabian Nabi Muhammad SAW tidak sama seperti aspek kenabian Nabi Musa as, sangat sejalan dengan keinginan dan kepentingan umat Yahudi sejak awal, dengan demikian para pemimpin agama Yahudi dapat mengatakan kepada umatnya :
“Hai Bani Israel !!! Lihatlah mayoritas umat Islam sendiri tidak mengakui bahwa Nabi mereka “sama seperti Nabi Musa”, artinya Nabi mereka (Nabi Muhammad SAW) bukanlah Sang Mesiah Universal yang kita tunggu. Mesiah Universal dari keturunan Nabi Ishak dan Nabi Daud belum datang !”
Keselarasan antara pandangan Golongan Suni dengan keinginan/kepentingan umat Yahudi berkenaan dengan Ke-Mesiah-an Nabi Muhammad SAW, mungkin hanya kebetulan saja. Tetapi mungkin juga bukan hal yang kebetulan.
Bukankah Sejarah Islam juga meriwayatkan keberadaan figur Kaab Al-Akhbar, seorang ulama Yahudi yang kemudian masuk Islam dimasa pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW ? Kedekatan Kaab Al-Akhbar dengan beberapa tokoh puncak umat Islam di masa itu, yaitu Khalifah Umar bin Khattab ra, Khalifah Utsman bin Affan ra , serta Abu Hurairah ra (perawi hadist terbanyak dilingkungan Golongan Suni) juga banyak diriwayatkan di dalam kitab2 sejarah Islam.
Melihat kenyataan bahwa pandangan Golongan Suni yang sejalan dan selaras dengan keinginan/kepentingan agama/kaum Yahudi, bukankah cukup alasan untuk berspekulasi, bahwa Kaab Al-Akhbar mungkin telah berhasil memasukan pemikirannya kedalam pandangan Golongan Suni melalui hadist2 Israiliyatnya, seperti hadist di bawah ini :
Dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Dua orang bercaci maki, seorang dari kaum Muslim dan seorang dari Yahudi. Orang Muslim itu berkata: ……………………………………….., lalu Nabi SAW bersabda: “Janganlah kalian memilih aku atas Musa karena besok pada hari Qiyamat manusia pingsan dan akupun pingsan bersama mereka, Aku adalah orang yang mula pertama sadar, tiba-tiba Musa memegang pada satu segi Arasy, maka aku tidak tahu apakah ia termasuk orang yang pingsan dan sadar sebelum aku, atau ia termasuk orang yang dikecualikan Allah”.
Pada hadist yang diriwayat oleh Abu Hurairah ra (yang sangat erat hubungannya dengan Kaab Al Akhbar) di atas, menjelaskan bahwa Nabi Musa as dibangunkan Allah SWT lebih dahulu dahulu daripada Nabi Muhammad SAW di Hari Kiamat, halmana menunjukan bahwa kedudukan Nabi Musa as lebih utama dibandingkan dengan kedudukan Nabi Muhammad SAW.
———————————————————————————–
Memahami Kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai Mesiah Universal
Ketidakpahaman mayoritas umat Islam (Golongan Suni) terhadap kedudukan dan fungsi Nabi Muhammad SAW selaku Mesiah Universal/Juru Selamat Umat Manusia/Pembawa Rahmat bagi Alam Semesta, yang berpangkal pada penolakan persamaan aspek kenabian ke-6 s/d ke-6 antara Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa as, kemudian mempengaruhi pandangan mayoritas umat Islam terhadap sosok dan kepribadian Nabi Muhammad SAW, yang pada akhirnya secara langsung mempengaruhi aqidah dan syariat ke-Islam-an mereka.
Sebagai konsekwensinya, maka selama mayoritas umat Islam belum mampu memahami kedudukkan dan fungsi Nabi Muhammad SAW sebagai Mesiah Universal, maka selama itu pula mayoritas umat Islam tidak akan mampu memahami ajaran agamanya secara utuh.
Sebagai Rahmatan lil Alamin, Nabi Muhammad SAW tidaklah sama seperti semua manusia lainnya yang pernah di ciptakan Allah SWT, Beliau SAW adalah se-mulia2-nya manusia yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Sehubungan dengan ini Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an :
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
QS. Al Ahzab [33]: 56
Tidak ada satupun manusia sejak Nabi Adam as sampai Hari Kiamat nanti yang memperoleh kehormatan dari Allah SWT sedemikian tingginya kecuali terhadap Nabi Muhammad SAW. Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk mendirikan shalat, melaksanakan puasa, berzakat, beramal-soleh dan sebagainya, tetapi tentunya Allah SWT sendiri tidaklah melakukan/mengerjakan apa2 yang diperintahkanNya kepada umat manusia itu.
Namun berkenaan dengan Nabi Muhammad SAW, sebelum Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk memberikan salam penghormatan (ber-shalawat) kepada Beliau SAW, Allah SWT sendiri beserta seluruh Malaikat telah terlebih dahulu dan terus senantiasa memberikan salam penghormatan (ber-shalawat) kepada Nabi Muhammad SAW.
Apakah Nabi SAW “maksum”?
Jikalau Para Imam Bani Israel dari keturunan Nabi Harun as dan para Imam dari ke-12 Suku Bani Israel saja disucikan oleh Allah SWT, yang artinya “maksum” yaitu setiap saat dicegah dari perbuatan melakukan kesalahan/dosa. Maka tentunya Nabi Muhammad SAW dan Para Imam Penerus (Wasiy) Beliau SAW yang berlingkup untuk seluruh umat manusia (Universal) lebih dapat dipastikan “ke-maksuman-nya”, sebagaimana telah ditetapkan oleh Allah SWT di dalam QS. Al Ahzab [33] : 33
Sementara ini kalangan mayoritas umat Islam mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW hanya “maksum” pada saat menerima dan memberitakan wahyu Al Qur’an, sedangkan diluar itu Beliau SAW adalah seperti manusia biasa lainnya, yang dapat berbuat salah dan dosa. Sebagai akibat pemahaman ini sering kali terdengar ucapan di antara umat Islam: “Ah tidak apa2 koq berbuat salah, karena Nabi Muhammad SAW juga acapkali berbuat salah, Beliau kan hanya manusia biasa seperti kita”.
Jika benar Nabi Muhammad SAW bisa berbuat salah dan dosa (diluar saat menerima dan memberitakan wahyu Al Qur’an), maka bagaimana mungkin umat Islae diwajibkan berpegang pada Sunnah Beliau SAW? Bukankah dengan demikian di antara sunah2 Nabi SAW itu terbuka kemungkinan mencakup pula perkataan atau perbuatan Beliau SAW yang salah dan mengandung dosa? Dan jika Nabi Muhammad SAW adalah seperti manusia biasa yang bisa berbuat salah dan dosa, bagaimana mungkin Allah SWT justru memerintahkan seluruh umat manusia sampai Hari Kiamat untuk menjadikan Beliau SAW sebagai suri tauladan yang baik, sebagaimana firman Allah SWT :
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS. Al Ahzab [33] : 21)
Ucapan di atas sungguh2 merendahkan derajat dan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmatan lil Alamin (Mesiah Universal), bagaimana mungkin kedudukan Nabi Muhammad SAW ditempatkan di bawah Para Imam Bani Israel yang dijamin Allah SWT tidak akan melakukan kesalahan/dosa karena mereka telah di sucikan (maksum).
Padahal dilain pihak mayoritas umat Islam mengakui adanya Hadist yang berbunyi: “Ulama2 dari umatku kedudukannya lebih tinggi dari nabi2 Bani Israel”. Para Imam Bani Israel itu kedudukannya lebih rendah dari nabi2 Bani Israel, dan Nabi Muhammad SAW ditempatkan dibawah para Imam Bani Israel, tetapi dilain pihak ulama2 umat Islam berada di atas nabi2 Bani Israel. Jadinya kedudukan Nabi Muhammad SAW berada jauh dibawah ulama2 umatnya sendiri ?
Cara berpikir mayoritas umat Islam yang kontradiktif di atas se-mata2 dikarenakan ketidakpahaman mereka terhadap kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai Mesiah Universal, Juru Selamat dan Pembawa Rahmat bagi seluruh umat Manusia. (Rahmatan lil Alamin)
Nabi SAW “bermuka masam”
Perendahan/pelecehan kedudukan Nabi Muhammad SAW oleh mayoritas umat Islam tidak saja terjadi pada tingkatan pembicaraan2 ringan se-hari2, melainkan lebih jauh lagi, yaitu dalam menafsirkan ayat2 Al Qur’an menisbahkan (melekatkan) hal2 yang tercela kepada Beliau SAW, seperti terjadi pada penafsiran yang umum atas Surat Abasa [80] : 1-2, yang merupakan Surat Makkiyah Ke-24 :
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya,
Padahal pada Surat Al Qalam [68] : 4, yang merupakan Surat Makkiyah Ke-2, Allah SWT berfirman :
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Bagaimana mungkin dapat dipahami oleh akal yang sehat bahwa Nabi Muhammad SAW yang Allah SWT sendiri telah mengatakan “berbudi pekerti yang agung”, malah bermuka masam dan berpaling ketika seorang pengikutnya yang saleh lagi buta menemuinya (Abdullah bin Ummi Maktum).
Disamping itu wahyu Al Qur’an itu diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, halmana artinya komunikasi yang terjadi adalah antara Allah SAW (melalui Malaikat Jibril as) dan Nabi Muhammad SAW.
Dalam komunikasi dua pihak, maka tentunya kata ganti orang yang digunakan adalah kata ganti orang kedua (kamu, engkau dsb), bukan kata ganti orang ketiga (dia, mereka), karena kata orang ketiga mengandung arti yang bersangkutan tidak termasuk didalam komunikasi dua pihak.
Karena QS. Abasa [80]: 1 ditafsirkan : “Dia (Muhammad)….”, maka berarti Nabi Muhammad SAW merupakan orang ketiga yang tidak termasuk di dalam komunikasi antara Allah SWT dengan orang yang menerima wahyu Al Qur’an termaksud. Jadi kepada siapakah wahyu Surat Abasa ini diturunkan ? Atau berarti juga wahyu Al Qur’an ditafsirkan tidak saja turun kepada Nabi Muhammad SAW tetapi juga ada orang lain?
Nabi SAW “kena sihir”
Kalangan mayoritas umat Islam mempercayai bahwa di Madinah Nabi Muhammad SAW terkena sihir yang dilakukan orang orang Yahudi, sehingga selama 3 hari Beliau SAW menjadi “linglung”, berdasarkan hadist yang di riwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah ra dan dimuat pada Kitab Sahih Bukhari.
Hadist ini jelas Dhaif (palsu), karena :
1. Jika benar Nabi SAW terkena sihir, maka benarlah tuduhkan kaum kaum musyrik yang mengatakan Nabi Muhammad SAW hanyalah seorang yang kena sihir, sebagaimana diberitakan dalam Al Qur’an :
Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang-orang zalim itu berkata: “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir”.(QS. Al Isra [17]: 47)
atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil) nya?” Dan orang-orang yang zalim itu berkata: “Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir.”
(QS. Al Furqon [25]: 8)
2. Sihir adalah perbuatan syaitan, dan syaitan tidak bisa menggangu orang2 yang mukhlas, sedangkan Nabi Muhammad SAW pastilah lebih lagi dari sekedar orang yang mukhlas.
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia ……….(QS. Al Baqarah [2]: 102)
Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.(QS. Shaad [38]: 82-83)
Hadist Dhaif tentang Nabi Muhammad SAW terkena sihir yang diriwayatkan oleh Aisyah ra (Kitab Sahih Bukhari) ini kemudian diperkuat lagi dengan hadist2 lainnya (seperti pada Kitab Hadist Al Baihaqi), yang meriwayatkan ketika Nabi SAW terkena sihir inilah Allah SWT menurunkan Surat Al Falaq dan Surat An Nas (Surat Al Mu’awwidzatain), padahal kedua surat tersebut turun di Mekkah sebagai Surat Makkiyah Ke-20 dan Ke-22, sedangkan menurut riwayat hadistnya Nabi SAW terkena sihir ketika di Madinah.
Ketiga contoh di atas tentang rendahnya pandangan dan penghargaan mayoritas Umat Islam terhadap Nabi Muhammad SAW, hanya sekedar mewakili dari banyak lagi contoh2 lainnya yang sejenis, dimana jika dijelaskan satu persatu, niscaya dapat disusun ke dalam sebuah buku tebal tersendiri.
Pandangan dan penghargaan mayoritas umat Islam terhadap Nabi Muhammad SAW sebagaimana digambarkan di atas jelas sekali bertentangan dengan kedudukan dan fungsi Beliau SAW sebagai Mesiah Universal/Juru Selamat dan Pembawa Rahmat bagi umat manusia serta seluruh alam semesta.
Dengan keadaan seperti ini bagaimana mungkin umat Islam mampu menyakinkan umat agama lainnya tentang kebenaran ajaran Agama Islam, karena syarat utama kebenaran ajaran agama samawi di akhir jaman adalah bahwa Nabi Pembawa Risalahnya haruslah memenuhi persyaratan sebagai Sang Mesiah Universal.
Dan sebaliknya, rendahnya penghargaan umat Islam terhadap Nabi Muhammad SAW, justru dapat dijadikan senjata oleh umat agama lainnya, dimana mereka akan mengatakan, “lihat ! umat Islam sendiri mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW mempunyai banyak kelemahan seperti layaknya manusia biasa, jadi mana mungkin Nabi Muhammad SAW bisa di akui sebagai Sang Mesiah Universal”.
Kesimpulan/Penutup
1. Ditinjau dari aspek ajarannya, maka pada hakekatnya semua agama samawi mengandung ajaran yang sama, baik pada segi Tauhid maupun Aqidahnya, yang berbeda adalah pada segi syariatnya saja, karena disesuaikan dengan kondisi ruang dan waktunya.
Semua agama samawi mengajarkan bahwa Tuhan itu Esa, Tuhan itu adalah Maha Pencipta Alam Semesta berserta Isinya, sembahlah Tuhan Yang Esa jangan menduakanNya, berlombalah berbuat kebaikan dan janganlah berbuatan kejahatan. Perbedaannya hanyalah berkaitan dengan muatan materi ajarannya yang disesuaikan dengan kemampuan umat manusia pada kurun waktunya untuk memahami ajaran agama yang bersangkutan.
Mungkin tahapan perkembangan muatan materi ajaran agama2 samawi ini dapat di ibaratkan seperti pelajaran pada jenjang pendidikan formal yang ada.
Ajaran agama (pesan Ilahiyah) yang dibawakan oleh Nabi Nuh as sampai Nabi Saleh as (Kaum Tsamud), dapat di umpamakan seperti pelajaran bagi tingkat Taman Kanak2 dan Sekolah Dasar.
Ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim as sampai Nabi Yunus as, dapat di umpamakan seperti pelajaran bagi tingkat Sekolah Dasar. Kemudian ajaran agama yang dibawakan oleh Nabi Musa as sampai Nabi Zakaria as & Nabi Yahya as, dapat di umpamakan seperti pelajaran bagi tingkat Sekolah Lanjutan Pertama. Sedangkan ajaran agama yang dibawakan oleh Nabi Isa as diumpamakan seperti pelajaran bagi Sekolah Lanjutan Atas, dan sekaligus mempersiapkan Bani Israel untuk memasuki jenjang pendidikan di Perguruan Tinggi. Akhirnya, ajaran agama yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW adalah untuk tingkatan pendidikan yang terakhir, yaitu tingkat Perguruan Tinggi sampai mencapai gelar akademis yang tertinggi, yaitu Tingkat S-3. Seluruh ajaran agama yang dibawa sejak Nabi Adam as sampai ke Nabi Muhammad SAW merupakan satu paket pelajaran pendidikan formal yang terpadu, selaras dan sejalan sesuai dengan tingkatannya, dan paket ajaran ini namanya “Islam”.
2. Agama-2 Samawi pada hakekatnya bertumpu pada dua aspek, yaitu aspek ajaran (aqidah dan syariat) dan aspek sosok/figur Pembawa Risalah Agama yang bersangkutan (Nabi/Rasul) berkaitan dengan kedudukan dan fungsi Juru Selamat/Pembawa Rahmat bagi Kaum tertentu atau bagi seluruh Umat Manusia (Mesiah Universal). Kedua aspek agama samawi ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam rangka memperoleh pemahaman yang seutuhnya atas masing2 agama samawi yang bersangkutan.
Oleh karena itu ajaran Agama Yahudi tidaklah mungkin dapat dipahami secara utuh tanpa memahami kedudukan dan fungsi Nabi Musa as, Pembawa Risalah Agama Yahudi dengan Kitab Tauratnya (dan juga Nabi Daud as dengan Kitab Zaburnya) sebagai Juru Selamat Bani Israel (Mesiah Bani Israel).
Demikian juga, Agama Nasrani/Kristen tidaklah mungkin dapat dipahami secara utuh tanpa memahami kedudukan dan fungsi Nabi Isa as (Yesus), Pembawa Risalah Agama Nasrani dengan Kitab Injilnya, sebagai Nabi Terakhir/Penutup Bani Israel dan sekaligus Juru Selamat Bani Israel, yang dikirim oleh Allah SWT guna memberikan peringatan kepada Bani Israel atas penyelewengan2 yang telah mereka dilakukan dan sekaligus mempersiapkan Bani Israel untuk menyongsong kehadiran Sang Juru Selamat/Pembawa Rahmat bagi seluruh umat manusia (Sang Mesiah Universal).
Dan terlebih lagi tentunya dengan Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW bagi seluruh umat manusia. Ajaran Agama Islam mutlak hanya mungkin dipahami secara utuh dan benar dengan bertitik pangkal pada pemahaman tentang kedudukan dan fungsi Nabi Muhammad SAW sebagai Juru Selamat/Pembawa Rahmat bagi seluruh umat manusia dan alam semesta (Rahmatan lil Alamin), yaitu sebagai Sang Mesiah Universal.
3. Kehadiran Mesiah Universal yang dijanjikan menjadi “Thema Sentral” agama2 samawi, dimana hampir semua Nabi yang di utus oleh Allah SWT memberitakan tentang ciri2 dari Sang Mesiah Universal tersebut. Berita2 atau Riwayat2 tentang Mesiah yang terdapat pada Kitab2 Suci Agama Samawi disebut pula sebagai “Nubuat Mesianistik”.
Adapun ciri utama Sang Mesiah Universal menurut Nubuat Mesianistik yang diakui oleh semua agama samawi adalah:
1). Sang Mesiah Universal berasal dari keturunan anaknya Nabi Ibrahim as yang dikorbankan,
2). Sang Mesiah Universal itu memiliki kesamaan dalam aspek kenabian dengan Nabi Musa as.
4. Di dalam perkembangan sejarahnya agama2 samawi ternyata tidak dapat bebaskan dirinya dari pengaruh2 kepentingan umatnya untuk mengaku/-mengklaim bahwa masing2 agama merupakan satu2nya agama yang benar dan Nabi Pembawa Risalah Agamnya adalah Sang Mesiah Universal yang ditunggu oleh segenap penganut agama samawi.
Untuk memperkuat klaim tersebut tidak segan2 pula para pemuka agama samawi, dalam hal ini Agama Yahudi, merubah bagian2 tertentu dari Kitab Suci Taurat (Tanakh), agar ciri2 Sang Mesiah Universal sesuai dan sejalan dengan apa yang mereka kehendaki.
Akhirnya, dapat kiranya disimpulkan bahwa perbedaan agama yang ada diantara agama2 samawi adalah bersumber dari persoalan siapakah anak Nabi Ibrahim yang dikorban itu, Ismail-kah atau Ishak-kah dan persoalan Nabi siapakah yang memiliki kesamaan dalam aspek kenabiannya dengan Nabi Musa as.
Kedua persoalan yang nampaknya sangat simpel, tetapi tidak mampu diselesaikan oleh umat manusia.
Dan kedua persoalan ini semata-mata membuktikan betapa benarnya firman Allah SWT,
…………..Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,(QS. Al Maidah [5]: 48)
Dari ayat QS. Al Maidah [5]: 48 di atas sebenarnya sangat terang dan jelas, dimana melalui ayat tersebut Allah SWT menyatakan sesungguhnya sangat mudah bagi Allah SWT untuk menjadikan umat manusia seluruhnya sepakat terhadap siapakah yang sebenarnya Mesiah Universal itu (‘pemberian-Nya”), tetapi Allah SWT justru menjadikan “pemberian-Nya kepadamu” yaitu Sang Mesiah Universal untuk seluruh umat manusia itu sebagai ujian bagi umat manusia apakah mampu mengenali dan mengimani Sang Mesiah Universal itu.
Tetapi pada akhirnya, ketika umat manusia kembali kepada Allah SWT, maka Dia akan memberitahukan siapakah yang sebenarnya Sang Mesiah Universal itu, yang selalu diperselisihkan oleh umat manusia.
Sebagaimana layaknya suatu ujian, maka pemberitahuan Allah SWT tentang siapakah sebenarnya Sang Mesiah Universal adalah juga merupakan jawaban yang berfungsi untuk menilai keberhasilan ujian termaksud.
Bilamana selama hidup di dunia ternyata seseorang telah mengenali dan mengimani Mesiah Universal yang salah, maka artinya yang bersangkutan tidak berhasil lulus dari ujian Allah SWT, dan sebagai akibatnya yang bersangkutan tidak akan memperoleh keselamatan dan keberkatan pada kehidupan di dunia dan di akherat.
Tetapi sebaliknya, jika selama hidup di dunia ternyata seseorang telah mengenali dan mengimani Mesiah Universal yang benar, maka artinya yang bersangkutan berhasil lulus dari ujian Allah SWT, dan sebagai ganjarannya yang bersangkutan akan memperoleh keselamatan dan keberkatan pada kehidupan di dunia dan di akherat
Orang nasrani kemudian menganggap Nabi Isa as sebagai juru selamatnya dan menganggap Nabi Muhammad Saw sbg mesiah dan Nabi palsu. Tapi setelah diselidiki Nabi Isa as tidak memiliki ciri kesamaan apapun dgn Nabi Musa as.
Bukankah di Al-Quran dikatakan bahwa nama Nabi Muhammad tertulis di alkitab? Coba anda cari ga bakalan ada, dan itulah senjata nasrani. Tapi setelah di cek dalam alkitab bahasa Ibrani, ternyata ditemukan, tapi bukan dgn nama “Ahmad” namun dgn tulisan “HMD” atau “Hamda” yang artinya adalah terpuji. Tapi “Hamda” juga bisa berarti “barang yang indah”, bah terjemahan kedualah yang diambil dan dijadikan patokan alkitab, namun itulah kelemahan kita karena tidak ada bukti lain.
Oleh ahli sejarah kemudian ditelusuri kembali, dan ditemukan bahwa ciri2 yang sama seperti musa as ternyata ada pada diri nabi muhammad saw. dan umat nasrani ga berkutik ketika disodorkan bukti terebut.
Ingat bung, bukti2 di atas lah yang disembunyikan oleh bangsa israil pada masa kenabian Nabi Muhammad Saw, karena bukti itulah mereka hendak membunuh Nabi Muhammad Saw.
Tentu anda tahu hadits 12 imam, 12 khalifah, Hadits kedudukan Imam ‘Ali dalam kitab2 sunni, sekarang saya tanya siapa saja 12 imam/khalifah versi sunni?
Apabila mengikuti pandangan Golongan Suni, maka tentunya akan sulit meyakinkan umat beragama lainnya tentang keabsahan Nabi Muhammad SAW sebagai Sang Mesiah Universal, karena pandangan Golongan Suni menafikan (menolak) adanya kesamaan antara Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa as, khususnya berkaitan dengan Aspek Kenabian Ke-6 s/d Ke-9.
nih bukti2 hadits 12 imam dari kitab2 sunni yang ditolak oleh sunni sendiri :
Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah berwilayah kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kamu ke pintu kesesatan” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Sahih Bukhari juz 5, Sahih Muslim juz 2; Adzahabi dalam kitabnya Mizanul I’tidal juz 4; Al-Khawarizmi dalam kitabnya Al-Manaqib, Al-Qunduzi Al-Hanafi dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah; Ibnu Hajar Asqalani as-Syafi’i dalam kitabnya Al-Ishabah juz 1)
Rasulullah saw bersabda, “Wahai manusia! Hormatilah Ali karena Allah telah mengkaruniakan kelebihan kepadanya. Terimalah Ali karena Allah telah melantiknya untuk kalian. Wahai manusia! Sesungguhnya Ali adalah imam dari Allah. Allah sekali-kali tidak akan menerima taubat seorang yang mengingkari wilayahnya. Dan Allah sekali-kali tidak akan mengampuninya. Sudah pasti Allah akan melakukan hal demikian ini terhadap orang yang menyalahi perintah-Nya mengenainya. Dan Dia akan menyiksanya dengan siksaan pedih yang berpanjangan. Lantaran itu kalian berhati-hatilah supaya kalian tidak menyalahinya. Justru itu kalian akan dibakar di neraka di mana bahan bakarnya adalah manusia dan batu disediakan kepada orang-orang yang ingkar” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Al-Qunduzi al-Hanafi dalam kitabnya Yanabi` al-Mawaddah; al-Khawarizmi dalam kitabnya al-Manaqib; Ibnu Hajar dalam kitabnya Tahdhib al-Tahdhib juz 1)
Rasulullah saw bersabda, “Wahai manusia! Dengan akulah demi Allah, para Nabi dan Rasul yang terdahulu diberi khabar gembira. Aku adalah penutup para Nabi dan Rasul. Akulah hujjah atas semua makhluk di bumi dan di langit. Barangsiapa yang meragukan Ali adalah kafir sebagaimana kafir jahiliyah. Dan barangsiapa yang meragukan sabdaku ini, berarti dia meragukan seluruhnya. Orang yang meragukannya adalah neraka sebagai balasannya” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Al-Qunduzi al-Hanafi dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah; al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak juz 3)
Rasulullah saw bersabda, “Ali adalah pemimpin setiap orang yang beriman sesudahku” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Sahih Tirmidzi, juz 5; Al-Qunduzi al-Hanafi dalam kitabnya Yanabi’ al-mawaddah; Al-Khawarizmi al-Hanafi dalam kitabnya Al-Manaqib; Ibnu Hajar dalam kitabnya Al-Ishabah juz 2; An-Nasa’i As-Syafi’i dalam kitabnya Khashaish Amirul Mukminin; Ibnu Asakir as-Syafi’i dalam kitabnya Tarjamah Ali bin Abi Thalib dalam Tarikh Damsyiq juz 1; Ibnu Atsir dalam kitabnya Jami’ al-Ushul juz 9)
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mati tanpa ketaatan (kepada seorang imam), mati sebagai murtad dan kafir.” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Ahmad ibn Hanbal dalam kitabnya Musnad Ahmad, juz 3)
“Barangsiapa yang mati tanpa berbaiat (terhadap seorang imam), maka ia mati sebagai kafir.” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Sahih Muslim)
“Barangsiapa mati dan tidak memiliki seorang imam, ia mati sebagai seorang kafir.” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Al-Mu’jam al-Kabir juz 10)
“Selama masih ada paling sedikit dua orang (di dunia), persoalan ini (kekhalifahan) tetap berada di tangan Quraisy.” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Sahih Muslim, Sahih Bukhari, Musnad Ahmad)
“Barangsiapa yang mati tanpa seorang imam, maka ia mati sebagai kafir.” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Musnad Ahmad juz 4)
“Barangsiapa yang mati tidak memiliki imam umatnya, maka ia mati sebagai seorang kafir.” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Al-Hakim dalam kitabnya Mustadrak juz 1)
Dari Ali mengatakan bahwa Rasulullah saw ketika menafsirkan ayat al-Qur’an, ‘(ingatlah) suatu hari ketika Kami memanggil setiap orang dengan imamnya’ (QS.Al-Isra:71) beliau bersabda, ‘Setiap kelompok akan dipanggil dengan imam zamannya.” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Ad-Durr al-Mantsur juz 4; AL-Qurthubi dalam kitabnya Tafsir)
Jabir berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Akan ada 12 pemimpin dan khalifah.’ Kemudian beliau menambahkan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Ayahku berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Semuanya dari golongan Quraisy.’” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Sahih Bukhari juz 4; Sahih Muslim; Sahih Tirmidzi; Sunan Abu Dawud; Musnad Ahmad)
Jabir meriwayatkan, “Aku dan ayahku pergi menemui Rasulullah saw. Kami mendengarnya bersabda, ‘Persoalan ini (kekhalifahan) tidak akan berakhir sampai datang 12 khalifah.’ Kemudian beliau menambahkan sesuatu yang tidak kudengar aku menanyakan pada ayahku apa yang Rasulullah saw sabdakan. Beliau saw bersabda, ‘Semuanya dari golongan Quraisy.’” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Sahih Muslim)
Rasulullah saw bersabda, “Agama Islam akan tetap berdiri sampai 12 khalifah, yang semuanya dari golongan Quraisy, memerintah atas kamu.” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Sahih Muslim; Syarah Nawawi)
Jabir berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Akan ada 12 imam dan pemimpin setelahku.” Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tak dapat kumengerti. Aku menanyakan pada seseorang di sampingku tentang itu. Ia berkata, “Semuanya dari golongan Quraisy’” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Sahih At-Tirmidzi juz 2)
Rasulullah saw bersabda, “Terdapat 12 khalifah untuk umat (Islam) ini.” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Musnad Ahmad juz 5)
Rasulullah saw bersabda, “Agama ini akan tetap agung sampai datang 12 imam.” Mendengar hal ini, orang-orang mengagungkan Allah dengan berkata Allahu Akbar dan menangis keras. Kemudian beliau saw mengatakan sesuatu dengan suara yang pelan. “Aku bertanya pada ayahku, ‘Apa yang beliau katakan?’ ‘Mereka semua dari golongan Quraisy,’ jawabnya.’” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Sahih Abu Dawud juz 2)
Awn mengutip ayahnya Abu Juhayfah sebagai berikut, “Aku dan pamanku sedang bersama Rasulullah saw, ketika itu beliau bersabda, “Urusan umatku akan terus berlalu sampai datang 12 khalifah.’ Kemudian beliau memelankan suaranya. Aku bertanya oleh Rasulullah saw. Ia menjawab, ‘Wahai anakku!’ Rasulullah saw bersabda bahwa mereka semua dari golongan Quraisy’” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Mustadrak ‘ala ash-Shahihayn juz 3)
Masyruq berkata, “Kami duduk dengan Abdullah bin Mas’ud, mempelajari al-Qur’an darinya. Seseorang bertanya padanya, ‘Apakah engkau menanyakan kepada Rasulullah saw berapa khalifah yang akan memerintah umat ini?’ Ibnu Mas’ud menjawab, ‘Tentu saja kami menanyakan hal ini kepada Rasulullah saw dan beliau menjawab, ’12, seperti jumlah pemimpin suku Bani Israil.’” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Musnad Ahmad juz 1)
Jabir meriwayatkan, “Aku dan ayahku sedang berhadapan dengan Rasulullah saw ketika beliau bersabda, ‘Pemerintahan dan khalifah umat islam ini akan berjumlah 12. mereka tidak akan menderita meskipun orang-orang tidak memberikan pertolongan.’ Dan menambahkan sesuatu yang tidak kudengar. Aku menanyakan pada ayahku tentang hal itu, ‘Rasulullah saw mengatakan bahwa mereka semua dari golongan Quraisy,’ jawabnya’” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Al-Mu’jam Al-Kabir oleh Thabrani juz 2)
.
Dalil 12 Imam adalah Dari Bani Hasyim
Hadis-hadis tentang 12 imam adalah sahih dan mutawatir, mereka semua dari golongan Quraisy. Sekarang dari bani apakah mereka?
Jabir berkata, “Aku dan ayahku berada di hadapan Rasulullah saw ketika beliau bersabda, ‘Akan ada 12 khalifah setelahku.’ Kemudian beliau memelankan suaranya. Aku bertanya pada ayahku apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw dengan pelan. Ia menjawab bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Mereka semua berasal dari Bani Hasyim!’” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Al-Qunduzi Al-Hanafi dalam kitabnya Yanabi’ Al-Mawaddah, Maktabah Ibnu Taymiyah)
Siapakah 12 Imam Itu?
Siapakah mereka (Imam 12)? Keluarga suci (Ahlulbait) Nabi? Sahabat Nabi? Berikut ini adalah dalil-dalil Sahihnya dari kitab-kitab Ahlussunnah.
Dari Ibnu Abbas, “Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa ingin hidup dan mati sepertiku dan ditempatkan di surga ‘Adn yang diciptakan Allah, maka harus mengikuti Ali dan penerusnya dan para imam setelahku, karena mereka adalah Ahlulbaitku. Mereka diciptakan dari tanahku dan diberikan pengetahuan. Kesengsaraan bagi orang yang menolak derajat ketinggian mereka. Kesengsaraan bagi orang yang menolak hubungan mereka dengaku. Semoga Allah mencabutnya dari syafaat mereka’” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Hilyat Al-Awliya juz 1)
Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Rasulullah saw menyelesaikan shalat yang pertama bersama kami, kemudian membalik badan menghadap kami dan bersabda, ‘Wahai para sahabatku, Ahlulbaitku di sisimu adalahseperti perahu Nuh dan gerbang Tobat. Maka setelahku, berpegang teguhlah pada Ahlulbaiku, pengikut kebenaran dan keturunanku. Dan pasti kalian tidak akan tersesat’ beliau di tanya,’Wahai Rasulullah, ada berapa jumlah imam setelahmu?’ Beliau menjawab, ‘Mereka berjumlah 12 dari Ahlulbaitku’” (Referensi Sahih Ahlussunnah : HR. Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak Ash-Shahihain, juz 2, Al-Hakim berkata hadits ini Sahih; Musnad al-Firdaus)
Seorang Yahudi memanggil Na’tsal untuk datang menemui Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Muhammad! Aku memiliki beberapa pertanyaan yang telah lama kusimpan. Jika engkau dapat menjawabnya, maka aku akan mameluk Islam dengan pertolonganmu.” Rasulullah saw bersabda, “Wahai Abu Amarah! Engkau dapat menanyakannya padaku!” Ia bertanya, “Wahai Muhammad! Bertahukanlah kepadaku penerus-penerusmu, karena tidak ada Rasul tanpa penerus.” Rasulullah saw menjawab, “Penerusku adalah Ali bin Abi Thalib dan setelahnya adalah kedua cucuku Al-Hasan dan Al-Husain, yang setelahnya akan ada 9 imam dari keturunan al-Husain yang datang secara berurutan.” Kemudian Yahudi itu berkata, “Sebutkan nama-nama mereka, wahai Muhammad!” Rasulullah saw menyatakan, “Setelah al-Husain akan ada putranya Ali (Zainal Abidin), setelahnya Muhammad (Al-Baqir), setelahnya Ja’far (Ash-Shadiq), setelahnya Musa (Al-Kazhim), setelahnya Ali (Ar-Ridha), setelahnya Muhammad (Al-Jawad) setelahnya Ali (Al-Hadi), setelahnya Hasan (Al-Asykari) dan setelah Hasan putranya Hujjah Muhammad Al-Mahdi. Maka jumlah mereka ada 12 imam.” (Referensi Sahih Ahlussunnah : Al-Qunduzi al-Hanafi dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar