Sabtu, 08 Oktober 2011

NINING SURYANINGSIH, RIDA RAMALA, AAN KURNIATI, IIS AISYAH, RENDA KASIH @ XI IPA 1

Risalah Nabi Muhammad untuk seluruh manusia
Risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. tidak hanya untuk umat tertentu, suku tertentu, bangsa tertentu. Tetapi, untuk seluruh manusia yang hidup di muka bumi. Hal ini dijelaskan oleh Allah azza wajalla, “Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui.” [QS. Saba (34): 28]
Sebagai sebuah risalah yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia, maka risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. memiliki karakteristik kemanusiaan (insaniyah).
Karakter insaniyah yang ditunjukkan oleh risalah ini adalah prinsip persamaan antar sesama manusia. Menurut pandangan Islam, manusia tidak dibedakan oleh warna kulit, suku, bahasa, dan atau perbedaan-perbedaan lainnya. Hal ini difirmankan oleh Allah swt.
“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS. Al-Hujurat (49): 13]
Bentuk nyata dari prinsip persamaan ini adalah Islam mengikis habis diskriminasi ras (rasialisme) dalam kehidupan. Tidak ditemukan bangsa kulit putih lebih unggul ketimbang kulit hitam sehingga bangsa kulit putih harus menjadi tuan bagi bangsa kulit hitam, dan bangsa kulit hitam menjadi budaknya.
Islam pun mengikis habis diskriminasi keturunan (kasta-kasta) dalam kehidupan. Tidak ada kasta atas atau kasta bawah. Tidak ada keturunan berdarah biru (ningrat) atau jelata. Islam pun mengikis habis pembedaan berdasarkan status ekonomi, pangkat, profesi, dan atau hal-hal lain yang melekat pada diri seseorang.
Jadi, tidak menjadi pembeda kekayaan dan kemiskinan, tidak menjadi pembeda jenderal dan kopral, tidak menjadi pembeda pemerintah dan rakyat biasa, tidak menjadi pembeda dokter dan petugas cleaning service. Seorang dokter adalah manusia, seorang petugas cleaning service pun manusia.
Seorang jenderal adalah manusia, seorang kopral pun manusia. Seorang yang kaya adalah manusia, seorang yang miskin pun manusia. Pendek kata, semua orang sama atas kemanusiaannya. Dan yang akan menjadi penentu prestasi manusia di hadapan Allah adalah tingkat ketakwaannya.
Dan ketakwaan merupakan sesuatu yang setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperolehnya. Seorang ningrat berpeluang untuk menjadi orang bertakwa sebagaimana peluang yang sama juga dimiliki oleh orang biasa.
Bilal bin Rabbah tadinya adalah seorang budak yang berkulit hitam legam—merupakan perawakan orang Habasyah (Etiopia)—kemudian menjadi orang yang mendapatkan posisi berarti di hadapan Allah yang sampai-sampai terompahnya sudah terdengar di surga di saat Bilal masih mengembara di dunia.
Contoh lain bisa dilihat dari kisah Hablah bin Al-Aiham, seorang Amir Ghassan. Seorang Arab Badui mengadukan kepada Amiril Mukminin Umar bin Khattab bahwa Hablah telah menamparnya tanpa alasan yang benar. Maka Umar tidak dapat berbuat apa pun, kecuali menghadirkan Hablah, menuntut dan menghukumnya dengan qishash. Si orang Arab Badui itu boleh membalas satu tamparan untuk satu tamparan, kecuali dia mau memaafkan dan mengampuni perbuatan Hablah.
Namun Hablah keberatan. Ia berkata kepada Umar, “Bagaimana ia melaksanakan qishash pada diriku padahal aku seorang raja dan dia hanya rakyat biasa?”
Lalu Umar menjawab, “Sesungguhnya Islam telah menyamakan antara kamu berdua.”
Amir Ghassan itu tidak menyadari nilai agung ajaran Islam itu. Ia memilih kabur dari Madinah dengan murtad dari Islam yang mewajibkan persamaan antara seorang raja dan rakyat jelata.
Selain tumbuh prinsip persamaan, juga tumbuh pula prinsip persaudaraan.
Persaudaraan antara sesama manusia, apa pun suku, bangsa, kedudukan sosial, strata ekonomi yang diikat oleh tali akidah. Tentang ini Allah swt. berfirman, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu, dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapat rahmat.” [QS. Al-Hujurat (49): 10]
Al-muslimu akhul muslim. Orang muslim yang satu merupakan saudara dari muslim yang lain. Prinsip persaudaraan yang seperti inilah yang menjadi penyebab tidak sedikit orang kafir memeluk Islam. Persaudaraan yang seperti ini yang membuat iri para malaikat. Persaudaraan yang membuat kuat setelah kelemahan. Persaudaraan yang membuat potret masyarakat Islam berbeda dan khas.
Risalah Muhammad merupakan risalah terakhir
Risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw. merupakan risalah terakhir. Tidak akan datang risalah setelahnya. Kalaupun ada yang mencoba mendatangkannya—tentu buatan manusia—tidak akan sanggup menandingi terangnya Islam.
Ibarat cahaya bulan di siang hari, tak akan sanggup menunjukkan cahayanya. Akan tenggelam oleh terangnya sinar matahari. Sehingga, yang datang kemudian –baik yang mengatasnamakan agama atau bukan, yang lama maupun yang baru, yang lokal maupun yang global, didukung dengan teknologi ataupun tidak– tidak akan menggantikan risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw.
Lihat saja yang mutakhir. Ilmu pengetahuan akan dan telah dijadikan agama oleh sebagian manusia di dunia. Padahal ilmu pengetahuan tidak akan bisa menggantikan agama sampai kapanpun.
Hal ini seperti yang dikatakan oleh Dr. Yusuf Qaradhawi, “Ilmu pengetahuan sama sekali bukanlah alternatif pengganti agama dan keimanan. Karena, ruang lingkup ilmu pengetahuan bukan ruang lingkup agama.
Yang saya maksud dengan ‘Ilmu Pengetahuan’ di sini adalah ilmu pengetahuan menurut versi Barat yang terbatas. Bukan menurut persepsi Islam yang komprehensif, yang mencakup ilmu pengetahuan tentang objek fisik partikel alam dan ilmu pengetahuan tentang hakekat eksistensi kehidupan yang besar, yaitu ilmu pengetahuan yang mencakup ilmu dunia dan ilmu agama.
Bukan sekedar ilmu pengetahuan tentang materi dan karakter partikelnya saja. Melainkan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan alam, kehidupan, manusia, dan Penciptanya Yang Maha Suci.
Ilmu pengetahuan dengan persepsi Barat tidak pantas menjadi pengganti agama, karena fungsi ilmu pengetahuan ini adalah memudahkan fasilitas hidup bagi manusia, bukan untuk menginterpretasikan [menafsirkan] kepada manusia rahasia kehidupan.
Oleh karena itu kita melihat negeri-negeri kontemporer yang paling besar kemajuannya dalam ilmu pengetahuan dan pencapaian teknologinya, justru warganya banyak mengeluhkan kekosongan rohani, stress kejiwaan, kekalutan pikiran, dan perasaan minder, perasaan sengsara.
Dan kita saksikan para generasi mudanya terjerumus dalam berbagai kontroversi ekstremitas pemikiran dan perilaku. Berontak kepada mekanisme kehidupan dan materialisme peradaban, meskipun mereka tidak sampai menemukan petunjuk konsep kehidupan yang benar dan jalan hidup yang lurus.”
Sebagai risalah terakhir yang diturunkan Allah swt., risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw. memiliki karakteristik kesempurnaan (takamuliyah) sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman-Nya, "Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu." [QS. Al-Maidah (5): 3]
Sifat kesempurnaan yang Allah swt. tetapkan itu menjamin bahwa Risalah Muhammad saw akan bisa menjawab dan bahkan mengantisipasi permasalahan yang diakibatkan oleh perkembangan kehidupan manusia hingga akhir zaman.
Kesempurnaan risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw. diperkuat oleh masih authentik-nya sumber utama risalah ini, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Keduanya ini telah selamat dari tangan-tangan jahil yang ingin mengubahnya. Dari masa ke masa selalu ada ulama-ulama ahli dalam bidang keduanya yang mendeteksi setiap kesalahan dan upaya penyimpangan. Lalu mereka meluruskan hal-hal yang salah tersebut.
Kedua sumber utama risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. telah memuat hal-hal pokok tentang bagaimana menyelesaikan dan mengantisipasi masalah manusia. Yaitu, dengan memberikan prinsip-prinsip yang tetap dan tidak berubah (tsawabith) sampai akhir zaman untuk dijadikan rujukan dan pijakan atas sesuatu yang berubah (mutaghayyirat), misalnya yang menyangkut metodologi dan sarana-sarana.
Risalah Rahmatan lil ‘alamin
Nabi Muhammad saw. diturunkan sebagai rahmat untuk seluruh alam, sebagaimana firman Allah swt, “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [QS. Al-Anbiya (21): 107].
Sehingga risalahnya adalah risalah yang membawa rahmat bagi seru sekalian alam. Sebagai sebuah risalah rahmat, maka Islam memiliki karakter wasathiyah (pertengahan) atau yang lebih dikenal tawazun (seimbang).
Wasathiyah atau tawazun itu adalah karakter Islam yang pertengahan dan seimbang antara dua kutub yang berlawanan dan bertentangan. Masing-masing kutub tidak berpengaruh sendirian sementara kutub lawannya dibuang, dan yang salah satu dari kedua kutub itu tidak diambil lebih dari yang semestinya (haknya) dan melanggar serta menzhalimi kutub lawannya.
Karakter Islam itu juga tidak tasyadud (ketat, menyusahkan) dan tidak tasahul (longgar, menggampangkan). Kalau Islam bersifat tasyadud akan hilang rasanya sebagai rahmat, karena orang yang melaksanakan Islam akan memiliki kesulitan.
Padahal Rasulullah saw. sebagai pembawanya memerintahkan untuk mempermudah, jangan mempersulit. Dan tasahul juga akan membuat rasa rahmat hilang, karena aturan Islam menjadi tidak jelas batasannya. Hidup tanpa aturan akan membuat hidup karut-marut. Lalu, seperti apa rasanya hidup yang karut-marut? Akan banyak orang yang terzhalimi karena hakikatnya tanpa aturan akan mengambil hak orang lain.
Wasathiyah dalam ibadah dan praktik ritual
Wasathiyah dalam ibadah terlihat dalam firman Allah swt, “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [QS. Al-Jumuah (62): 9-10]
Terlihat betul pertengahan dalam ibadah dan rahmatnya Islam pada ayat-ayat di atas. Islam tidak mengharuskan umatnya untuk memutuskan sama sekali aspek duniawi (dalam hal ini aktivitas jual beli) atas ibadah. Sebelum shalat Jum’at, umat Islam melakukan perdagangan. Setelah itu shalat Jum’at, umat Islam melakukan perdagangan kembali, dengan selalu berdzikir kepada Allah. Ini berarti kehidupan berdagangnya pun tidak lepas dari aktivitas ibadah dan praktik ritual lainnya.
Wasathiyah dalam moral
Islam bersikap moderat antara kaum idealis ekstrim –yang membayangkan manusia sebagai malaikat atau menyerupai malaikat. Maka mereka meletakkan untuknya nilai-nilai dan adab susila yang tidak mungkin untuk dilaksanakan– dengan kaum pragmatis (realis) ekstrim –yang menyangka manusia adalah bagaikan hewan. Maka mereka menginginkan tata perilaku yang tidak pantas bagi manusia.
Manusia menurut pandangan Islam, tentu sebagaimana yang Allah sampaikan lewat firman-Nya, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” [QS. Asy-Syams (91): 7-10]
Begitulah ciri keumuman risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar